Khairil anwar pernah berkata
Aku ingin hidup seribu tahun lagi
yang lagi disiksa dalam kubur berkata
Andai aku diberi sehari saja untuk hidup di dunia
Maka aku akan beribadah dan berbuat kebajikan
Oh sungguh itu sebaris kata sesal
Secuil harapan kosong
dan
Segelintir harapan manusia yang sadar
Harimu adalah hidupmu
Satu hari yang berlalu tanpa sebuah kebajikan sangatlah sia-sia
Satu hari yang terlewati tanpa bertambahnya iman sungguh menyedihkan
Satu hari yang terlupakan tanpa rasa syukur sangatlah takabbur
Satu hari yang ditutup tanpa sebuah harapan sungguh mengerikan
Satu hari yang tanpa apa-apa sungguh tak berguna…
Bukankah satu hari berlalu
Menandakan sehari dari umurmu berkurang
Bukankah satu hari berlalu
Menandakan masa aktif hidupmu kian dekat
Bukankah satu hari berlalu
Menandakan hari tuamu di depan mata
Bukankah satu hari berlalu
Menandakan liang lahat akan menyambutmu
Bukankah satu hari berlalu
Menandakan kau akan dihisab oleh-Nya
Bukankah satu hari berlalu
Menandakan kamu akan masuk syurga atau neraka
Ataukah kamu masih ingin membiarkan satu hari berlalu begitu saja
Sadarlah wahai jiwa yang tenang
Sadarlah wahai orang yang berakal
Sadarlah wahai tanah yang berjalan
Sadarlah wahai hati yang angkuh
Sadarlah wahai raga yang merasa perkasa
Sadarlah wahai manusia….
Selanjutnya Baca...
Selasa, 14 Juli 2009
Harimu Adalah Hidupmu
Nafsu Abad-21
Assalamu'alaikum dunia
Salam sejahtera buatmu dan buat kami yang menghunimu
Sadarkah engkau akan masa kita sekarang
Masa dimana orang tak mengenal dirinya
Masa dimana ambisi gila merajalela di hati manusia
Masa dimana jiwa jauh dari jalan-Nya
Masa dimana ketenagan diganti dengan kepiluan
Masa dimana bahagia diganti dengan luka
Masa dimana si kaya tambah subur dan si miskin tambah kering
Masa dimana harta sebagai hukum perdana dan perdata
Masa dimana semua lendi sudah gila…
Nafsu abad-21…
Nafsu yang ditunggu oleh jiwa yang rapuh
Nafsu yang dinanti oleh jiwa pembangkang
Nafsu yang digemari oleh pria dan wanita psikopat
Nafsu yang dirindu oleh jiwa yang terbelenggu
Nafsu yang diamini para pecandu kenikmatan semu
dan
Nafsu yang mengembalikan kaum Sodom dan kaum Nabi Luth
Nafsu abad-21…
Nafsu dengan label mengatasnamakan….
mengatasnamakan kebebasan
mengatasnamakan hak asasi
mengatasnamakan persamaan
mengatasnamakan emang gue pikirin
mengatasnamakan loe siapa
mengatasnamakan kenikmatan syurga
mengatasnamakan gengsi
mengatasnamakan reputasi
mengatasnamakan posisi
mengatasnamakan rakyat
mereka bertingkah semau nafsu
Oh sedihnya….
Nafsu abad-21…
Nafsu yang dilumuri oleh duniawi
Nafsu yang dihiasi oleh perzinaan
Nafsu yang direstui oleh menghalalkan segala cara
Nafsu yang dipuja oleh dusta
Nafsu yang dibai'at oleh para penyihir buta
Nafsu yang selimuti udara munafik
Nafsu yang dirangkul oleh jiwa kebinatangan
Nafsu yang didorong oleh keangkuhan
Nafsu yang disutradarai oleh amoral
Nafsu yang
Oh hancurnya….
Selanjutnya Baca...
Cinta Sang Penghamba
Aku tak tau harus mulai darimana
Aku takut harus bilang apa
Aku sedih jika salah kata
Dan aku harus gimana…
Itulah cinta dalam khayalku
Satu kata yang begitu indah dan pahit tuk dirasa
Indah jika dimulai dengan cinta karena-Nya
Dan brujung pahit jika nafsu jadi pilar utamanya
Saat mata memandang angkasa
Hatipun berkata andai cinta seindah rembulan
Sekilau bintang nirwana
Sebiru langit kehidupan
Dan seputih awan Tuhan
Kala menatap samudra
Urat nadi saling tarik untuk memberi komentar akan cinta
Andai cinta seluas katulistiwa
Sedalam palung kasih sayang
Setenang ombak ketulusan
Seputih buih pengertian
Dan sekuat karang cobaan
Namun…
Sudah pahamkah kita, apa itu cinta?
Sudah dalamkah kearifan kita sebelum bertemu cinta?
Sudah ikhlaskah hati kita menerima dan melepas cinta?
Sudah dekatkah kita dengan sang pemilik cinta?
Kalau belum marilah kita berdo'a…
Ya Allah
Dalam sepi kami memanggil-Mu
Dalam sadar kami mengharap-Mu
Dalam bahagia kami mendamba-Mu
Dalam segalanya kami pasrah pada-Mu
Ya Allah
cinta-Mu adalah tumpuan harapan kami
cinta-Mu adalah kehormatan bagi jiwa kami
cinta-Mu adalah permadani bagi hati kami
cinta-Mu adalah setetes embun suci bagi raga kami
cinta-Mu adalah segalanya ya Allah….
Terimalah do'a sang penghamba cinta-Mu
Amien…Ya rabbal 'Alamin
Selanjutnya Baca...
Rumah-Mu
Aku malu
Aku segan
Aku takut
Aku merinding
Melangkah ke rumah-Mu
Hatiku merunduk
Jiwaku sujud
Egoku hanyut
Ragaku rapuh
Saat Mendengar asma-Mu
Ku basahi tubuh dalam wudhu-Mu
Ku baluti hati dalam shalat_Mu
Ku lepas dunia dalam sujud-Mu
Ku kembali pada-Mu dalam zikirku
Hatiku tenang tak terbeban
Jiwaku bersih tak ternoda
Fikiranku jernih tak terkotori
Harapanku terang pada-Mu
Runyamnya Dunia
Hmm...
Panas, panas dan panas
Setiap pandangan diselimuti kegelisahan
Setiap fikiran diselimuti beban kehidupan
Dunia tak lagi bersahabat
Manusia tak peduli teman atau kerabat
Sikut sana sini demi sebuah martabat
Yang katanya membela rakyat
Matahari tak ubahnya api membara
Yang siap membunuh apa saja
Tak peduli manusia atau alamnya
Bahkan bumi tempat kita sementara
SDA dunia kian habis
Manusia berfikir tuk tetap eksis
Bumi seperti tak berlapis
Karena t'lah habis terkikis
Bencana terjadi dimana-mana
Longsor, gempa, tsunami atau apa lah namnya
Yang kan selalu menghantui manusia
Di setiap langkah hidupnya
Moral dan agama
Taka lagi menjadi penyangga
Manusia telah terpedaya
Oleh hiruk pikuk dunia
Tuhan tak lagi ada
Ketika dunia mulai memanja
Hati tak lagi sunyi
Ketika dunia menghinggapi.
Selanjutnya Baca...
Bingkai Wanita
hmm...
terpesona dalam kata
terkagum dalam senyum
tergoda dalam warna
bahagia dalam raga
auramu menikam sukma
belaimu memecah nirwana
rayuanmu menoreh rasa
bisikmu menyulam cinta
kau begitu sempurna
ketika sinar kasihmu menyapa penuh bahagia
senyummu meraba penuh manja
cintamu tulus tak beriba
sorot matamu lembut bak sutra..
Oh indahnya…
Jika setiap detik nafas ini bersamamu
berkhalwat dalam mihrab cinta-Nya
mempersembahkan tarian sufi bagi-Nya
hingga malam tenggelam menyapa mentari
Selanjutnya Baca...
Air Mata Syurga
Dunia begitu kelam
dedaunan merunduk penuh sujud
angih malam terluka tak berdaya
bintang-bintang berlinangan air mata
Air mata surga
di malam hari yang buta
bening tak ternoda
dikala jiwa bersimbah luka
oh indahnya...
dikala dewi malam berdansa penuh cinta
tuk menghapus deraian airmata
tuk membalut mahkota luka
alam pun bersuara penuh tanya
menatap angkasa yang tak berprasa
menyelami dunia yang tak bernyawa
tuk merangkul langit yang berduka
semoga embun pagi
membawa harapan suci
ketika goresan hati
terhapus oleh sunyi ......
Selanjutnya Baca...
Pergi Kemana Hati Membawamu
Dalam sunyi…
Dalam sepi….
Dalam ilusi…
Ku bernyanyi tiada henti
Cawan rabbi memanggil
Bagian jiwa yang mungil
Bagian itu menggigil
Lewat siraman kalimat tahlil
Jasad bani adam direngkuh si kecil
Seperti palestina diselimuti israil
Ini zaman Qabil dan Habil
Hasil cipta sang Qadirul Jalil
Tiada Tuhan selain Allah
Sang sutradara dunia
Sastrawan maha hebat
Yang membungkus hati
Sebagai tema karya agung-Nya
Jalan lurus dan bervariasi
Berakhlak zamrud atau batubara
Berlumuran dosa atau pahala
Hatilah pawing utamanya
Pergilah kemana hati membawamu
Jadikan hati sebagai sopir hidupmu
Jadikan Tuhan sebagai penunjuk jalanmu
Buatlah iman sebagai pelumas mesinmu
Dan jadikan dzikir, tahlil, tahmid dan takbir sebagai mekanikmu
Agar kau sampai pada terminal syurga-Nya
Selanjutnya Baca...
Minggu, 12 Juli 2009
Nite Butterfly...
Malam mulai menyelimuti gedung-gedung pencakar langit,jalan-jalan sudah mulai padat oleh kendaraan roda dua dan empat. lebih-lebih suara roda khas para pedagang roti bakar. klub-klub malam sudah mulai dipenuhi oleh orang-orang beruang dan borjuis lebih-lebih ekskutif muda yang butuh refreshing setelah full time bekerja seminggu penuh. para pengamen dan anak jalanan masih kelihatan serius
bekerja dan bernyanyi di lampu merah dibawah jembatan layang kota metropolitan itu.
Nampak di sepanjang jalan di penuhi oleh para pekerja malam yang sedang menunggu pelanggan, mereka kebanyakan mengincar para ekskutif muda dan om-om yang beruang.
Uang dan unglah yang membuat semuanya lancar tanpa uang bagaikan berada di neraka”ucap santi sambil mengoles-oles bedak di pipinya yang putih itu“
ya kenapa ya…….”balas anggi
“apakah selamanya kita harus seperti ini…..?”sambung tesa yang kelihatan risau belum dapat pelanggan itu
“anggi,tes….kok malam ini sepi banget ya,kalo gak da pelanggan sekarang kita mau makan apa besok”cetus santi sembari meremas-remas buah dadanya yang mulai kelihatan gatal itu.
“iya sepi banget,mungkin tuhan tidak kasihan lagi kepada kita karena tingkah kita selama ini”sambung anggi yang kemudian di tertawai oleh teman-teman seperofesi itu.
“anggi…..jangan ceramah disini donk….!!?”tukas tesa kesel.
Tiba-tiba Teett……teetttt…..”suara mobil sedan yang berpelat Jakarta itu sambil menepi dan mengajak salah seorang diantara para pekerja malam itu.
“hi,bung…..”ucap sinta yang kelihatan sudah tidak tahan itu
“hi,naik yuk”ucap pemilik mobil sedan itu sambil membukakan sinta pintu depan mobilnya.mobil itu kemudian melaju kencang menuju sebuah hotel berbintang. sambil mengendarai mobil tangan kiri bung itu mulai meraba-raba paha sinta yang putih langsit itu. sintapun tidak mau kalah gerak dia semakin memasukkan tangan bung itu kedalam rok mininya itu sehingga dia kelihatan mulai mendesah.“periit….periiiit…..”suara peluit tukang parkir hotel. bung itu langsung memarkirkan mobilnya dan mengajak sinta jalan kedalam hotel
“embak ada kamar yang kosong…”tanyanya kepada petugas hotel
“ada bung…,pesan untuk berapa orang”tanyanya
“satu embak…”balas bung itu kembali
“oya kamar 356 dan nih kunci kamarnya”sambung petugas hotel itu sambil memberikan konci kamarnya.Sinta dan bung itu mulai jalan menuju kamar yang di tentukan oleh petugas itu.
“treeeeeeeeeeeett……….”suara pintu kamar terbuka.
“masuk yuk….”sapa bung itu sambil menarik tangan sinta dan langsung mengonci kamar itu rapat-rapat.sambil berjalan menuju kamar tidur bung itu mulai memeluk sinta dari belakang dan meraba-raba pinggul dan bagian depan tubuh sinta yang montok itu perlahan-lahan dia mulai membuka baju dan celananya dalamnya penisnya kelihatan sudah mulai berdiri keras sinta yang kelihatan terangsang itupun langsung menanggalkan baju dan celana dalamnya, kini mereka sudah mulai babak yang membawa mereka kedalam dunia yang tidak pernah akan terlupakan itu. pelan-pelan bung itu meraba-raba payudara sinta dan kemudian memasukkan penisnya yang sudah mulai kelihatan memanjang itu kedalam vagina sinta
“ouhh…ouhh…..”deris sinta sambil memeras-meras kedua buah dadanya yang besar itu. bung itu semakin keras mendorong penisnya masuk kedalam vagina sinta sampai berlumuran degan air kental yang keluar dari vagina sinta itu.
“ouh…ouh….nikmatnya”cetus bung itu sambil memegang buah dada sinta. sinta semakin bergairah.dunia terasa milik mereka berdua sesuatu yang seharusnya tidak terjadi akhirnya terjadi malam itu. sinta kelihatan mulai lemas begitu juga bung itu yang kemudian dengan pelan-pelan mencabut penisnya dari vagina sinta dan langsung ke kamar mandi. sinta yang masih kelihatan tergeletak telanjang bulat di atas spring bed, tubuhnya kelihatan kaku. setelah dari kamar mandi bung itu kemudian merapikan pakaian dinasnya seperti semula dan mengambil dompetnya yang berisi lembaran-lembaran merah bertulisan ratusan itu dan menaruh uang itu di antara kedua buah dada sinta.sinta akhirnya terbangun dan mulai menyadari apa yang telah ia lakukan malam itu karena takut di ketahui polisi tanpa membersihkan diri akhirnya ia pun bersegera merapikan pakaiannya dan menaruh uang itu kedalam tasnya dan mulai mengikuti bung itu untuk mengantarnya ketempat mangkalnya.
Sesampainya di tempat mangkalnya sinta kemudian turun dari mobil bung itu,mobil itu kembali melaju kearah awalnya. teman-teman sinta yang seperofesi masih kelihatan menunggu pelanggan.sambil berjalan agak tersendat-sendat sinta mendekati temannya.matanya mulai berbinar-binar ketika melihat beberapa lembar uang bernilai ratusan ribu itu ada di tangannya, kini hatinya tidak gundah lagi namun sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya sudah di renggut oleh manusia-manusia yang berhidung belang, kini ia hanya bisa meratapi akan semua hal itu namun bagaimanapun juga ia harus menanggung semua akibatnya.demi menyambung hidup mau gak mau ia harus meneruskan perofesinya itu demi mencukupi kehidupannya ditengah kehidupan yang semakin mencekik leher itu.
“hi…..”sapa sinta dengan suara agak lemas
“hi juga,gimana kencan kamu sama bung itu sin……”tanya tesa yang mulai menyapa pelanggannya itu
“wah seru abis…….!!?sambungnya sambil menutup tas kecil dan memasukkan lembaran-lembaran uang ke dalam tas kecil warna gray. sinta mulai meninggalkan tempat mangkalnya menuju tempat tinggalnya yang tidak jauh dari lokasi itu. sampai rumah kontrakannya sinta mulai merasakan ada sesuatu yang gatal di sekeliling vaginanya iapun mencoba untuk menggaruk-garuknya bintik-bintik merah itu semakin gatal saja yang membuat sinta semakin tidak tahan, darah mulai kelihatan mengalir dari dalam vaginanya ia semakin khawatir akan kesehatan alat reproduksinya itu iapun kemudian bergegas pergi ke kamar mandi dan membersihkannya namun darah itu semakin saja mengalir bak tidak ada habisnya, darah yang mengalir itu beraroma tidak sedap
“bau…bau…..”ucapnya sambil mencoba membersihkannya dengan sabun dove. kehawatiran akan terkena penyakit HIV ia kemudian mengambil beberapa butir pil pembersih vagina dan membunuh janin yang ada di dalam laci meja riasnya itu. kini rasa perih dan darah itu mulai kelihatan mereda namun ia yakin bahwa penyakit itu pasti akan menghampirinya selama ia masih melakukan pekerjaannya itu.Tanpa disadari ia pun tertidur tak sadarkan diri.malam kota metropolitan itu seolah olah tidak mau tahu akan apa yang terjadi dengan warganya,suara bar dan diskotik masih saja terdengar ramai oleh pengunjjung yang memang non-stop itu. para pekerja malampun tidak mau ketinggalan untuk menawarkan kenikmatan tubuh mereka kepada lelaki-lelaki berhidung belang yang tidak pernah merasa puas dengan seks yang diberikan oleh isterinya itu.
Selanjutnya Baca...
Beatiful Heart Landscape
Pagi itu mentari pagi seperti biasa menebar senyumnya yang bening nan sayu. Kicauan burung perkutut dari ranting pohon samping kontrakanku menari begitu riang bak penari balet yang akan pentas pada pemilihan miss balet 2020. depan kontrakan terdengar hiruk pikuk para penjual soto yang sedang mempersiapkan dagangannya dan siap tuk berjalan menyusuri jalan,lorong bahkan gang demi gang di jogjakarta. Sementara Di dapur nurul (adikQ) sedang beres-beres buat persiapan sarapan pagi kami. Yah kami seperti pengantin muda saja, tinggal dikontrakan yang
baru saja selesai dibangun dengan gaya arsitktur eropa yang agak eksotik dan kami adalah orang yang pertama kali menempatinya.
Halamanya luas dikelilingi pohon dan bunga yang indah. Sesekali aku luangkan waktuku untuk bertanam ria sambil mencabut rerumputan liar yang ada di sekeliling bunga dan pohon Lidah Buaya. Namun satuhal yang bikin aku jengkel adalah ketika si pendekar malam “Kucing” membuang hajatnya di atas rumput kesayanganku. Padahal aku telah mati-matian untuk merawatnya, namun namanya saja binatang tidak punya perasaan..hmm……!!!!!!!!!!!!! Setelah menikmati lezatnya sarapan pagi aku pun mulai bergegas mengambil tas kesayanganku “The Nort Face” tas warna hitam yang selama ini setia menemaniku. Bukan hanya menemani saat menuntut ilmu saja loch, namun di saat jatuh dari motor juga, bahkan dia yang pertama menyelamatkanku dari kerasnya benturan tubuh ini dengan jalan raya yang bermuka keras itu. Bisa dibilang lebih dari pacar pengorbanannya he…he..he..
Berbekal tas hitam,buku,dompet,handphone sama si mungil putih(Rokok) yang selalu stand by di saku depan celana jeans biru yang baru saja aku beli bulan kemarin. Tanpa si mungil ini terkadang aku tidak PD berjalan, sehingga membuatku begitu tergantung padanya. Setelah semuanya lengkap kaki inipun perlahan mulai meninggalkan kontrakan dan langsung meluncur ke jalan raya yang jaraknya kurang lebih 200 meter. Sesampai di pinggir jalan raya mata ini langsung tertuju pada jalan yang biasa dilewati oleh bus Kuning jalur 16. detik demi detik mata ini selalu mengarah pada jalan itu dan tak sedikitpun berkedip bak seorang pemburu professional yang takut kehilangan buruan emasnya. Satu demi satu batang rokok LUCKY STRIKE itu aku hisap namun si kuning itu belum juga nongol di depanku. Kucoba tuk melihat jam yang ada di Handphone Motorolla putih di balik saku jeans kananku. “Siall..sudah satu jam lebih aku menunggu dan tinggal sebentar lagi aku ada Ujian MID di kampus..” ucapku sambil hadap kiri kanan berharap bis kuning itu cepat datang. Aku jadi salting (Salah Tingkah) rasa kesel,marah,jengkel bahkan rasa kepingin tidak berangkat kuliah bercampur aduk seperti gado-gado embok yum yang terkenal paling enak di jogja itu. Hatipun mulai menuduh semua ini gara-gara si kuning yang selalu terlambat datang. Belum lama dari jeda marahku tersebut si kuning terlihat dengan rasa bangga dan tak berdosa menghampiriku. Rasa marah dan kesel yang menyelimuti fikiranku hilang begitu saja bak ditelan bumi setelah si kuning menghampiri dan membawaku kekampus.
Di dalam bus hanya aku berdua penumpangnya. Yang satunya cewek tak berkerudung. Kulitnya sawo mateng,bibirnya agak tebal,pipinya tembem seperti serabi pasar sentul,rambutnya lurus seperti sehabis rebonding dan tubuhnya agak gemuk. Pertama kali memasukkan kakiku kedalam bus tersebut dia menatapku penuh Tanya. Seperti tatapan komandan terhadap prajurit yang dicurigai mencuri barang perajutit yang lainnya. Ku coba tuk menebar senyum walau hatiku pingin muntah melihat sikapnya. Kucoba tuk santai dan menikmati pemandangan sepanjang jalan kekampus. Sampai pada lampu merah yang pertama tepatnya dekat Pom Bensin Tamsis datang wanita paruh baya sambil menggendong anaknya yang masih lucu dan imut namun harus sudah berjuang pagi-pagi tuk mencari nafkah dengan ibunya. Dia hanya bisa menatap tanpa penuh arti, yang di inginkan hanya uluran tangan para penumpang demi menyambung hidup di tengah sibuknya kota jogja. Satu demi satu penumpang yang kebetulan pada naik dekat lampu merah tersebut memberikan receh yang mereka ambil dari saku dan dompet. Hatiku sakit dan menagis melihat ibu dan anaknya tersebut. Akupun berfikir seandainya nanti kedua orang tuaku tak sanggup lagi membiayai kuliahku masih pantaskah aku untuk malas kuliah dan menghabiskan waktu tuk kepentingan yang tidak membawa manfaat tersebut?
Hatikupun mulai merasa bimbang,takut,resah serta gundah setelah melihat kejadian di lampu merah tadi. Sikuning terus saja berjalan namun hati dan fikirannku entah kemana. Aku mulai memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi tapi aku andaikan itu terjadi padaku. Satu demi satu penumpang itu turun namun hati dan fikirannku tak sedikitpun mengalami ketenangan. Sampai ahirnya sikuning berhenti depan gerbang kampusku. Pandanganku tertuju pada para mahasiswa yang bergaya-gaya sambil merokok depan parkiran. sekilas aku melihat ada sahabatku di tengah-tengah mereka akupun menyapanya dengan mulut yang masih kaku“hai Prat….kamu gak masuk ujian karang?sapaku“gak ko zen ..biasa aku libur, mungkin masuknya senin depan lagi”balasnya sambil menawarkanku sebatang rokok“Makasih Prat atas rokoknya..”ucapku sambil meninggalkannya bersama teman yang lain.Kepalaku terasa agak mendingan setelah menghisap rokok Jarum Super tersebut. Aku seperti tersihir oleh asap nirwana yang tersimpan dalam rokok tersebut. Dalam hati akupun bertanya-tanya kalau ternyata rokok ini punya sisi positif juga ya. Kalau yang selama ini kita dengar dari mulut orang yang tidak merokok sih rokok selalu berkonotasi negative. Artinya tidak ada manfaatnya bahkan selalu membawa pada penyakit yang mematikan.
Kaki ini terus melangkah dan melangkah hingga sampai pada Loby Fakultas. Aku langsung naik kelantai 4 dimana ujian akan dilangsungkan. Aku menyempatkan diri melihat jam di HP ternyata waktu ujiannya tinggal 3 menit lagi baru dimulai. Kaki ini semakin cepat melangkah. aku tak peduli berapa panggilan yang menyebut namaku. Sampai lantai 4 aku mulai keringatan, nafasku ngos-ngosan seperti orang yang di kejar anjing pelacak poltabes DIY. Setelah menelusuri ruangan demi ruangan ahirnya aku sampai pada ruang ujian Mata Kuliahku. Aku mulai masuk sambil melihat bangku yang masih kosong dan sialnya lagi aku duduk paling depan. Padahal semalam aku belum pernah buka buku sama sekali. Tapi dalam hati aku berfikir disaat seperti inilah akan di tes sejauh mana daya ingat dan daya analisis bebas mahasiswa dan hususnya aku. Aku gak tahu kenapa tib-tiba fikiran bijaksana itu merasuki otakku. Apakah ini buah dari perenungan di jalan tadi ataukah karena aku suka baca buku filsafat dan sufi.
Beberapa menit kemudian kertas soal di bagikan. Mahasiswa konsen pada lembar jawaban, namun ada juga yang cipika-cipiki sambil memanggil namaku. Bukan mahasiswa namanya kalau tidak seperti itu. Setelah satu jam berlalu bel pun berbunyi itu pertanda jawaban harus dikumpulkan jadi gak jadi. Semua mahasiswa keluar kelas tidak terkecuali aku.dengan baju kaos LASKAR PELANGI akupun mulai meninggalkan kelas yang sudah sumpek dengan wajah para mahasiswa lama tersebut. Kuambil sebatang rokok di balik tas hitamku. Dengan santai dan seperti yang punya fakultas saja gayaku melangkah dan menyusuri setiap anak tangga tersebut. Sesampai di loby fakultas aku bertemu dengan sahabat kocak sekaligus yang kami tuakan yaitu Embah Lubis. Orangnya biasa tapi kadang suka iseng,jail,gokil,alim,radikal pokoknya makyus dah. Dengan langkah pelan dari belakang aku tepuk kedua bahunya…“Wouyy….!!hayo lagi ngapain mbah”?sapaku sambil melirik ke teman yang di ajak ngobrol tersebut…”ini siapa mbah?..pacar baru yah…he..he..he..”lanjutku sambil ngeledek“Walah zen..zen..kamu ini kalau lihat aku sedikit saja ngobrol sama cewek langsung saja kamu memvonis dia cewekku,Mbok ditanya dulu ta…”jawabnya mengelak“tapi kalo beneran pacar kan gak apa-apa mbah… zen selalu mendukung dan setuju ko… he..he..!!!” sambungku sambil mendorongnya agak dekat sama cewek tersebut. Si cewek hanya bisa tertawa dan tersenyum kecil melihat tingkah kami berdua. Mungkin dalam hatinya berkata “ini anak ko mirip yach..jangan-jangan adik kakak lagi he..he..he..”.
Tak terasa suhu udara dingin sekali, langit juga terlihat mendung. Sang raja siang menyembunyikan wajahnya tak seperti biasanya. Begitu keluar dari lobi fakultas mau ketempat antre bus tersebut..tiba-tiba suara hujan menyapaku dan teman-teman yang lain“Wuuuurr…..rrrrrrr!!!!”“Zen hujannya deras “sahut ucin teman sekelasku itu“Ya…kita berteduh disini” jawabku sambil menunjuk tempat yang tidak basahi siraman hujan tersebut. Sambil menghisap rokok LS(Lucky Strike) kami berbincang-bincang soal film Laskar Pelangi yang launching tanggal 26 september 2008 tersebut.“Zen kamu udah nonton film LP(Laskar Pelangi) enggak?”Tanya ucin sambil menghadapkan wajahnya padaku“Lum kok cin…tapi bajunya udah beli..he.he..”jawabku dengan nada agak bangga“Walah tak kirain udah nonton jee..btw mau nonton bareng enggak?”sambungnya dengan muka sumringah“Wah kurang tahu e cin..coba Tanya Lian tuh dia mau apa enggak?”lanjutku sambil menepuk bahu lian“Nonton paan zen?” tanyanya dengan raut wajah yang sok tidak dengar arah pembicaraan kami tadi“Nonton LP yan..kamu mau gak..tiketnya 20rb kalau hari senin sampai jum’at tapi kalau hari sabtu minggu tiketnya 25rb..piye mau enggak?” jelasku panjang lebar“Hm…gimana yach…tak piker sek yo..soale nek sak iki aku rak nduwe duit e..!! trus piye zen..?” imbuhnya sambil mengarahkan wajahnya padaku“Yo rak popo yan..ojo di paksa. Nek rak iso yowis rak sido nontone” balasku dengan suara yang lemah.
Dengan rokok yang sebentar lagi habis, namun hujan belum juga reda. Aku kasihan melihat ucin sama lian, mereka sepertinya kedinginan. Ingin ku berikan salah satu diantara mereka untuk memakai jumperku, namun aku hawatir ada yang iri diantara mereka. kalau salah satu ada yang tidak kebagian. Ahirnya kuputuskan untuk tidak memberikan salah satu di antara mereka. Langit semakin gelap. Awannya begitu tebal,hitam,menggulung dan begitu menakutkan. hujan semakin deras saja sepertinya tak kenal kompromi dengan mahasiswa. Dalam hati ini bertanya mungkinkah ini adalah cobaan sehingga hujannya begitu deras dan lama apalagi diselingi dengan dentuman halilintar yang sesekali menyambar. Tiba-tiba…”Zen..Zen..Zen..!!”Sapa Ucin yang mencoba menyadarkanku dari lamunan. Sambil melambai-lambaikan tangannya untuk mengetes kesadrannku. Namun tiba-tiba…dengan suara yang keras ucin membentak pundakku..“Wouy…!!”sapa ucin untuk yang kedua kali. Aku kaget bukan main. seperti disengat aliran listrik. Akupun langsung bangun dan melihat langit sudah mulai tersenyum. Hujan pun sedikit demi sedikit beransur reda, kini raja siang kembali nampak lagi dengan gaya lamanya.“Ahh…ucin, kamu ngagetin aja!!” ucapku sambil memandang wajahnya yang kelihatan manis tersebut“Ya maaf zen..abisnya kamu sedikit-dikit melamun sih. Udah yuk kita balik” tuturnya sambil menuju ketempat pengambilan motor.“Yuk..” lanjutku sambil meninggalkan tempat berteduh menuju gerbang kampus. disana tempat nongkrongnya si kuning sang dewa penyelamatku ke kampus.
Waktu di HPku menunjukkan pukul 14.15 menit. Aku teringat kalau belum sholat zuhur. Aku langsung naik si kuning dan berharap bisa sampai kontrakan sebelum hujan mengguyur untuk yang kedua kalinya. Ternyata si kuning belum penuh, aku terpaksa menunggu hingga penuh oleh penumpang. Satu demi satu penumpang naik dan bis pun kemudian melaju kencang mencoba meninggalkan jejak di kampus yang dipenuhi oleh kaum menengah kebawah. Hatiku begitu gembira ketika sikuning mulai meninggalkan pangkalannya. Terus terang ini adalah pertamaku naik bis kuning tersebut. Aku sedikit salting ketika melihat isi penumpang tersebut adalah adek kelasku yang satu fakultas dan bahkan ada yang sudah kenal denganku. Dalam hati aku mantapkan diri dan niatku. Aku mulai berfikir secara realistis dan hakekat sesuatu yang pada awalnya adalah apa adanya. Aku tidak mau membohongi perasaanku sendiri. Aku sadar aku bukanlah orang yang berpunya. Setelah merenung dan menatap kedalam diri, aku sadar kalau aku punya teman baru dan kenalan baru dan mungkin dunia baru. Yang mana selama ini aku hanya bergaul dengan anak yang rata-rata punya kendaraan dan berpunya. Kini diri ini ingin merasakan kehangatan sebuah pertemanan dengan orang-orang yang selalu menerima kenyataan hidup apa adanya tanpa banyak mengeluh dan mengeluh.
Setelah sadar dari refleksi tersebut. Aku mulai menatap beragam wajah dan tingkatan social masyarakat yang ada dalam bis tersebut. Sungguh indah sekali. Ada mahasiswa,pengamen,PNS,Buruh,pelajar,pedagang asongan dll. Aku baru sadar kalau ternyata selama ini rasa syukur kepada yang kuasa begitu sedikit terucap dari hati dan mulut ini. Aku masih bersyukur masih diberi kesempatan dan nikmat untuk menuntut ilmu. Tidak lama kemudian suara kondektur si kuning menggaung keras“Pakualaman…pakualaman….”ujarnya sambil melihat kedalam bis apakah ada dari penumpang yang akan turun di daerah tersebut. Akupun mulai berdiri“Kiri pak…”sapaku pada sang kondektur“Yo kiri siji….”lanjut sang kondektur separuh baya tersebut sambil memberi isyarat pada sang sopir tuk berhenti. Akupun turun dari bis dan memberikan Rp.2500 rupiah ke kondektur. Langit kelihatan mendung dan badan inipun terasa letih, wajah begitu kusam oleh debu dan asap mobil. Sedikit demi sedikit kaki ini melangkah menuju rumah kontrakan yang tidak jauh dari tempat turun bis tadi. Begitu sampai depan masjid Agung Pakualaman Suara azan berkumandang keras. Aku kaget dan teringat kalau aku belum sholat zuhur. Tanpa pikir panjang kaki ini ku percepat menuju kontrakan. Gang demi gang terlewati begitu cepat ada yang lurus hingga yang nikung seperti sirkuit GP Sentul. Kaki ini berhenti ketika memasuki rumah yang berwarna hijau, bermotif minimalis ala eropa disertai dengan taman yang mungil yang ditaburi mekaran bunga.“Treeeeeeeetttt…tttttttt..!!” sura pintu gerbang aku buka“Treeeeeeeettt….tttttttt..!!” Pintu gerbang aku tutup lagi. Sambil menguci dari dalamBegitu sampai depan pintu kamar. Aku langsung membuka sepatu dan membuka pintu kamar. Semua peralatan kuliah aku sandarkan dekat dengan deretan buku-buku kuliah dan peralatan mandi. Kuambil konci kamar mandi dan mencoba menghidupkan keran.“Whuuuuurrrrrrr…rrrr!! Suar air keran keluar deras sekali.Sambil menunggu bak mandinya penuh. Kuambil sebatang rokok dan mulai menghisapnya sambil duduk depan kamar mandi. Melihat taman dan bunga yang indah aku seperti berada pada satu perbukitan bunga indah dunia di negeri Sakura.“Hmm…ternyata hidup itu indah kalau dinikmati dan dijalani dengan rasa syukur serta menerima apa adanya..”Ucapku dalam hati. “Bukankan Tuhan itu sayang dan begitu dekat pada hambaNya yang senantiasa bersyukur dan menikmati hidup ini sebagaimana adanya” tambahku dalam mengisi kessendirian yang ditemani si mungil (Rokok).
Tak terasa air bak mandi penuh dan mulai berjatuhan. Kumatikan rokok dan membuang putungnya ke tong sampah dekat pohon jati.“Byuurrrr…..rrr” suara air berjatuhan dari dalam kamar mandi. Tubuhku seperti baru selesai di charg, smangat,antusias,berambisi dll. Butiran-butiran kristal airpun merasuki pori-pori kulit tipisku.mengeluarkan kepenatan dan aura-aura negative tubuhku. Setelah 4 menit berlalu. Akupun keluar dengan suasana yang fresh dan siap menaklukkan hari yang kelabu ini. Setelah mengambil wudhu aku mulai menghadap sang pencipta. Dengan khusu’ dan penuh penyesalan atas dosa dan kesalahan yang selama ini aku perbuat. Dalam setiap sujudku aku beristigfar dan mohon ampun atas dosa-dosaku dan dosa kedua orang tuaku dan dosa orang-orang yang telah berjasa dalam hidupku namun aku belum sempat memberikan kebahagian kepada mereka. Berharap pintu maaf dan taubat akan selalu terbuka lebar untukku. Seleabar dan seluas samudra dan angkasa yang kuasa. Setelah menunaikan sholat seperti biasa aku mulai meghidupkan PC yang ada dikamar. Sambil mendengarkan lagu Hello yang berjudul “Ular Berbisa” dan Angkasa dengan “Luka” serta d’Massiv dengan “Lukai Aku” hati ini begitu tersentuh dengan ketiga lagu tersebut. Lagu Ular Berbisa itu bisa dikatakan pernah aku alami ketika mencintai gadis hanya dengan melihat fisiknya saja namun hatinya begitu berbisa yah kira-kira seperti ular gitu lah. Kemudian lagu Luka nya Angkasa itu aku pikir tidak jauh beda dengan lagu UB nya Hello. Tapi kalau yang ini konteksnya adalah lelaki yang begitu cinta pada sang pujaannya namun pujaannya tersebut memberikan harapan kosong padanya(Cinta Sebelah Tangan).Yang pada ahirnya meninggalkan luka dan kepedihan begitu mendalam hingga menusuk tulang dan membeku didalamnya tuk selamanya. Semantara Lukai Aku d’Massiv lebih kepada cinta dan harapan semu dan ketidak jelasan arah cinta mereka yang mana sang gadis selama ini tidak jujur pada orang yang mencintainya kalau dia sudah ada yang punya (Rakus cinta dan kasih sayang). Yang pada ahirnya menoreh luka dan kenangan pahit yang mendalam. Yah semoga aja aku dijauhkan dari hal tersebut. Mencari pasangan memang harus teliti luar dan dalam biar tidak menyesal kemudian hari.
Tidak lama dari reflekasi lagu melo nan sendu itu. Adzan magrib pun mulai berkumandang. Ku buka jendela dan menatap langit sudah mulai gelap. Sang raja siang melambaikan tangannya tuk kembali ke peraduannya. Angin malampun mulai berkeliaran. Burung-burung beriringan tuk kembali kesarangnya. Dedaunan terlihat segar setelah seharian diterpa panas sang penguasa siang. Awan mulai berpisah dan langitpun terlihat begitu indah, segar dan menenangkan jiwa bagi siapapun yang memandangnya dengan hati yang dipenuhi cinta akan yang kuasa.
Kucoba keluar dan melangkahkan kaki sejenak kearah taman mungil yang mengelilingi pekarangan rumah. Kucoba untuk melihat bunga yang aku tanam beberapa hari yang lalu. apakah ada yang mati atau ada rumput liar yang belum dicabut dari sekeliling pohon bunga tersebut. Ternyata semuanya baik-baik saja. Berjalan sesuai dengan harapan. Malam mulai menyapa ketika percikan sinar sang bintang kejora dan sapaan lembut sang dewi malam merasuki hati dan fikiranku. Pemandangan malam itu mengingatkanku kembali pada rumah nenek jauh di Lombok sana. Sejak SD sampai SMP aku selalu dan bahkan tinggal bersama nenek dan bibiku. Aku bisa dibilang jarang balik kerumah ortu. Paling kalau mau balik itupun karena nenekku yang nyuruh dan minta aku untuk pulang beberapa hari saja. Aku lebih kerasan sama nenek dan bibiku yang tinggal jauh dari keramaian. Tinggal disebuah gubuk yang dipenuhi oleh cinta,kasih sayang dan keramahan penduduknya. Sekeliling rumah nenekku di pagari oleh hamparan sawah yang menghijau setiap saat dan aliran sungai yang begitu deras nan jernih serta diramaikan oleh beragam jenis ikan didalamnya. Ada lele,bandeng,mas,nila bahkan ada yang dalam bahasa Indonesia ikannya tidak punya nama.
Ketika masih dirumah nenek aku paling sering yang namanya mancing di sungai. Berangkat pagi pulang sore bahkan pernah sampai malam, sehingga membuat nenekku hawatir dan mengingatkanku untuk tidak pulang malam lagi. Kadang pergi sendiri kadang di ajak sama sepupuku yang lebih tua dariku Namanya Hambali,Hamdani,Fahmi. Mereka adalah orang-orang yang selalu ada dan menjadi teman sepermainanku selama tinggal dirumah nenek. Yang paling tua adalah hambali dan yang paling kecil adalah fahmi. Anaknya ramah dan sopan. Setiap pagi aku selalu dibangunin shalat subuh ke surau dekat sungai. suraunya sepertinya sudah berumur puluhan tahun. Atapnya yang terbuat dari pohon ilalang yang kering kemudian di ikat dengan kayu dari pohon jati atau pelepah kelapa. Temboknya menggunakan daun kelapa yang di anyam, begitu juga dengan alas tempat sholatnya masih menggunakan anyaman daun kelapa dan terkadang pakai daun pisang yang hijau tua. Persis seperti tempat ibadahnya para sufi klasik, tempat berhalwat dan munajat kepada sang pemilik nyawa. Disamping surau itu ada kolam yang lumayan besar. Tempat orang-orang desa mandi ketika pulang dari sawah dan hendak menunaikan sholat. Air kolamnya dari sungai yang melintas tepat didepan surau. Kalau hujan tak kunjung turun biasanya air sungai kering dan sudah pasti air kolam tersebut akan mengecil. Tapi selama aku tinggal disana aku tidak pernah melihat air kolamnya berkurang. Mungkin ini yang namanya karunia Tuhan.
Setelah sholat subuh kemudian aku diajak menggali ubi kolokinang (ubi yang berwarna ungu) tidak jauh darti surau tadi. Setelah setengah jam berlalu. Ubi itu kami bawa kepinggir kolam yang tempatnya agak luas, kemudian mencari kayu bakar. Pagi itu begitu indah. Nikmat Tuhan begitu terasa merasuki jiwa dan lorong hati yang terdalam. Sambil menunggu sang mentari pagi menebar senyumnya. Kami mencoba menghangatkan badan dekat bakaran ubi. Kayak orang Eskimo yang jarang lihat api..he..he..!!. Pemandangan desa nenekku kian terasa begitu indah, tenang,sejuk penuh kedamaian. Yah..mungkin bisa dibilang masyarakat madani seperti yang di dengungkan Cak Nun. Kepulan asap dari rumah warga pertanda sebuah kehidupan yang begitu dinamis akan siap melawan hari. Kicauan burung dari ranting pohon kelapa begitu merdu seperti merdunya sura penyayi arab “Nawwal El-Zaughby” yang berjudul “Habibi dan biladi”. Kokokan ayam jantan tak mau kalah dengan kicauan burung pipit sawah yang merdu. Mereka seperti rival berat yang tuhan cipta, tak ada yang mau mengalah. Hempasan udara pagi begitu lembut,sejuk dan menyegarkan pori-pori.merasuk begitu cepat layaknya berkecepatan diatas 10 giga bite.
Sungguh sebuah kehidupan yang begitu dinamis dan madani. Ketika musim padi tiba aku selalu di ajak oleh nenek untuk pergi kesawah. Berjalan diatas pematang sawah yang menghijau. Melihat orang yang sedang membajak. Terkadang membantu mindahin bibit padi yang mau ditanam. Dirumah nenekku masih menggunakan tenaga kerbau/sapi untuk membajak sawahnya. Maklum masih kampung banget. Tapi sekarang itu semua telah berahir. Membajak tak lagi menggunakan sapi tapi pakai teraktor.
Yah…ku akui selama tinggal dirumah nenek. aku begitu bahagia dan selama sama nenek aku tidak pernah sedikitpun mendengar yang namanya omelan,bentakan,menghukum anak/cucu apa lagi marahi mereka. Aku salut dan bangga melihat cara nenek mendidik anak dan cucunya. Sehingga tidak heran kalau anak-anak nya termasuk anak-anak yang patuh dan taat pada orang tua bahkan sampai mereka tua sekarang. Memang cara mendidik anak yang terbaik adalah mendidik dengan hati bukan yang lain. Pendekatan emosional nenek terhadap semua cucu dan anaknya begitu dekat,indah dan harmonis. Ketika ada masalah nenek selalu yang memulai dan mencoba menjelaskan dan menerangkan pada cucu maupun anaknya.
Kak…kak…!!”panggil nurul dari dapur, panggilan yang membuat lamunanku hilang entah kemana.bak disambar petir siang bolong. ”kakak mau makan sekarang gak? dah siap nih” lanjutnya sambil terus melangkah masuk kedalam kamarnya. Kuambil sebatang rokok yang kusisakan siang tadi. Aku sepertinya sudah kecanduan dengan si mungil. Tanpanya badanku seperti kaku, nalarku beku, rasaku tak menentu. Kuisap mulut simungil penuh penghayatan dengan harapan bisa membawaku terbang kealam imajinasi yang lebih tinggi. Kepulan asapnya yang putih menarik jiwaku tuk mengikutinya keangkasa sana. Terbang kealam bebas, terbang dengan jiwa penuh cinta dan kenikmatan yang tak tertara. Ahh…andai saja aku punya sayap pasti aku akan terbang menyusulnya, terbang tuk melihat ciptaan tuhan diluar sana. Dimana tak pernah terbayangkan pemandangan yang begitu indah nan memukau. Lagi-lagi kuterbai dalam lamunan semu dan tak tahu sampai kapan lamunan ini akan berakhir. Huuuhhh….ku bangun dari duduk santaiku. Kugerak-gerakkan badan kecil ini, kekiri dan kekanan. Tulang –tulang pinggang dan ototku berbunyi, namun tak sampai menimbulkan irama. Kuberanjak ke tempat wudhu depan kamarku. Wuuuurr…rrrrrrrrrrrrr!!! Suara air mengalir deras, sederas ketenangan malam menyambut…….
Selanjutnya Baca...
Romantika Cinta Pereng
Ku tersadar dalam lamunan malam
Ku terbuai dalam alunan Semu
Ku terhimpit dalam Lingkaran rasa
Dan Ku terhempas dalam Sepoi Kerinduan
Malam mulai tak beraturan
Dentuman kasih menghempasku
Dalam linangan salju kegilaan
Dalam ketaksadaran dan ketakberdayaan
Sedih,senang,bahagia dan terluka
Pertanda cinta tak lagi berasa
Gumpalan airmata terdiam dalam sepiku
Lantunan kepiluan menemani dalam mimpiku
Barisan bukit indah pereng yang merona
menghipnotisku dalam kepahitan makna cinta
menimangQ dalam dangkalnya kesetiaan
Menyelimutiku dalam belaian kerapuhan
Selanjutnya Baca...
